FENOMENA tak lazim, tentunya, bila dewasa ini ada pemodal yang ingin menghamburkan duitnya melalui surat kabar harian. Apalagi, pemodal itu bukan berasal dari lingkungan industri media. Juga tidak datang dari keluarga pers. Tentu hal ini demikian mengagetkan? Adakah rencana gila yang menjadi sasaran tembaknya?

Memang, tak mudah mengetahui pasti sasaran tembak yang akan dibidik khususnya oleh Surabaya Post era baru. Paling sederhana mencermati isi pemberitaan berkelanjutan. Pendampingnya, tak lain si raksasa Jawa Pos dan harian pagi Surya, yang masih segrup dengan raksasa media ibukota, Kompas.

Topik yang dicermati setidaknya dibatasi pada Lapindo. Sejauh mana fungsi kontrol sosial yang diemban ketiga media, pada kasus nasional, yang menelan investasi besar itu. Terutama setelah 1 September 2008.

Jika ingin melihat kebijakan sebelum 1 September, paling menarik mengkaji atas pemberitaan seputar persiapan Pilgub Jatim.

Penetapan tanggal 1 September 2008, terkait dengan berubahnya manajemen redaksi, khususnya di Surya dan Surabaya Post, yakni adanya pergantian top redaksi.

Surya kini menghadirkan sosok pemimpin redaksi orang dalam. Sementara, Surabaya Post memasang pemimpin redaksi dari luar, mantan pemimpin redaksi Surya, juga alumni pemimpin redaksi Jawa Pos.

Untuk gerakan penetrasi pasar pada pencermatan ini diabaikan. Sudah dapat dibaca. Jawa Pos masih yang terdepan. Gerakan sebelum 1 September 2008 pun masih bernilai tambah yang dilancarkan oleh Jawa Pos. Sementara, Surya dan dengan kompasnya, justru menetapkan strategi kaki lima, bermain “murah”. Koran Rp 1000. Tapi, ini pun ternyata tak mampu menggeser keberadaan koran Rp 2500,00 si Jawa Pos di semua jalur traffic light di Surabaya.

(Priono Subardan)